BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Dalam
melakukan penelitian salah satu hal yang penting adalah membuat desain
penelitian. Desain penelitian meliputi serangkaian pilihan pengambilan
keputusan rasional. Keputusan mengenai
tujuan studi, tingkat manipulasi dan kontrol penelitian, konteks studi, jenis
investigasi, aspek temporal, dan level analisis data adalah integral pada
desain penelitian. Desain penelitian bagaikan sebuah peta jalan bagi peneliti
yang menuntun serta menetukan arah berlangsungnya proses penelitian secara
benar dan tepatsesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tanpa desain yang
benar seorang penelititidak akan dapat melakukan penelitian dengan baik karena
peneliti tidak mempunyai pedoman arah yang jelas. Agar mencapai pembuatan
desain yang benar maka peneliti perlu menghindari kesalahan potensial dalam
proses penelitian secara keseluruhan seperti kesalahan dalam perencanaan,
kesalahan dalam pengumpulan data, kesalahan dalam melakukan analisa, serta
kesalahan dalam pelaporan.
1.2.Rumusan Masalah
1. Apakah
Desain Penelitian itu ?
2. Apa
saja tujuan dari studi kasus?
3. Apa
saja jenis investigasi dalam proses penelitian?
4. Bagaimana
tingkat intervensi penelitian terhadap studi?
5. Bagaimana
situasi dalam studi penelitian?
6. Unit
analisis apa yang diperlukan oleh peneliti?
1.3. Tujuan Penulisan
1. Untuk
memahami aspek-aspek dalam desain penelitian.
2. Untuk
mengidentifikasi cakupan studi dan penggunaan akhir dari temuan penelitian.
3. Untuk
memutuskan jenis investigasi yang dibutuhkan, konteks studi, tingkat intervansi
peneliti, unit analisis dan horizon waktu studi.
4. Untuk
mengidentifikasi mana dari dua, studi kausal atau korerasional, yang lebih
tepat dalam situasi tertentu.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Desain Penelitian
Menurut Depdiknas (2008), desain diartikan sebagai kerangka,
pola atau rancangan. Sedangkan Penelitian adalah kegiatan pengumpulan,
pengolahan, analisis dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan
objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk
mengembangkan prinsip-prinsip umum.
Dari definisi yang dijelaskan di atas,
penulis menyimpulkan bahwa desain penelitian adalah pola
atau bentuk yang digunakan seorang peneliti dalam menyelidiki kasus untuk memperoleh jawaban atas suatu permasalahan
yang dapat dijadikan perbandingan dalam mengambil suatu keputusan.
2.2.Tujuan Studi Kasus
Studi kasus merupakan penyelidikan studi
yang dilakukan dalam situasi organisasi lain yang mirip, yang juga merupakan
metode pemecahan masalah, atau untuk memahami fenomena yang diminati dan
menghasilkan pengetahuan lebih lanjut dalam bidang tersebut. Sifat studi
bergantung pada tahap peningkatan pengetahuan mengenai topik yang diteliti.
2.2.1. Studi
Eksploratif
Studi Eksploratif dilakukan jika tidak banyak yang
diketahui mengenai situasi yang dihadapi, atau tidak ada informasi yang
tersedia mengenai bagaimana masalah atau isu penelitian yang mirip diselesaikan
di masa lalu.Intinya, studi eksploratif dilakukan untuk memahami dengan lebih
baik sifat masalah karena mungkin baru sedikit studi yang telah dilakukan dalam
bidang tersebut.Wawancara ektensif dengan banyak orang mungkin harus dilakukan
untuk menangani situasi dan memahami fenomena.Studi eksploratif dilakukan
ketika sejumlah fakta diketahui, tetapi diperlukan lebih banyak informasi untuk
menyusun kerangkat teoretis yang kukuh (Sekaran, 2006).
2.2.2. Studi Deskriptif
Studi Deskriptif dilakukan untuk mengetahui dan
menjadi mampu untuk menjelaskan karakteristif variable yang diteliti dalam
suatu situasi .Adapun tujuan dari Studi
deskriptif adalah memberikan sebuah
riwayat kepada peneliti atau untuk menggambarkan aspek-aspek yang relevan
dengan fenomena perhatian dari perspektif seseorang, organisasi, orientasi
industri, atau lainnya. Studi deskriptif yang menampilkan data dalam bentuk
yang bermakna (Sekaran, 2006), dengan demikian membantu untuk :
1.
Memahami karakteristik sebuah kelompok
dalam situasi tertentu;
2.
Memikirkan secara sistematis mengenai
berbagai aspek dalam situasi tertentu;
3.
Memberikan gagasan untuk penyelidikan
dan penelitian lebih lanjut;
4.
Membuat keputusan tertentu yang
sederhana
2.2.3. Pengujian Hipotesis
Pengujian Hipotesis, menjelaskan sifat hubungan
tertentu atau menentukan perbedaan antara kelompok atau kebebasan
(independensi). Pengujian hipotesis dilakukan untuk menelaah varians dalam variabel
terikat untuk memperkirakan keluaran organisasi (Sekaran, 2006).
2.2.4. Analisi Studi Kasus
Studi kasus meliputi analisis kontekstual dan
mendalam terhadap hal yang berkaitan dengan situasi serupa dalam organisasi
lain. Studi kasus bersifat kualitatif adalah berguna dalam menerapkan solusi
pada masalah terkini berdasarkan pengalaman pemecahan masalah di masa lalu
(Sekaran, 2006).
2.3.Jenis Investigasi Kausal vs
Korelasional
Dalam menemukan jawaban atas suatu
persoalan, seorang peneliti harus menentukan jenis investigasi yang
diperlukan.Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan hubungan sebab
akibat atas persoalan yang dihadapi. Studi kausal digunakan untuk menyatakan
bahwa variabel X menyebabkan variabel Y. Jadi, jika variabel X dihilangkan atau
diubah dalam cara tertentu, masalah Y terpecahkan. Tetapi, cukup sering tidak
hanya satu atau lebih variabel yang menyebabkan masalah dalam organisasi.
Sedangkan studi korelasional digunakan peneliti untuk menemukan variabel
penting yang berkaitan dengan masalah tersebut.
2.4.Tingkat Intervensi Peneliti
Terhadap Studi
Tingkat intervensi penelitian mempunyai
keterkaitan langsung dalam studi yang dilakukan, yaitu studi kausal atau studi
korelasional.
Macam–macam intervensi
peneliti dalam memanipulasi studi penelitian (Sekaran,2006) yaitu:
2.4.1. Intervensi
Minimal
Intervensi minimal terjadi jika peneliti
hanya menyebarkan kuesioner tanpa
mengintervensi aktivitas normal terhadap kasus yang diteliti.
2.4.2. Intervensi
Sedang
Peneliti tidak lagi berurusan dengan temuan korelasi
namun ingin menentukan secara kukuh hubungan kausal.Atau memanipulasi peristiwa
normal dengan secara sengaja mengubah tingkat dukugan.
2.4.3. Intervensi
Berlebih
Setelah melakukan eksperimen terdahulu seorang
peneliti merasa bahwa hasilnya mungkin tidak valid karena adanya faktor
eksternal lain dan memastikan bahwa faktor asing tersebut mungkin mempengaruhi
hubungan sebab-akibat. Dalam intervensi berlebih tidak hanya dukungan
manipulasi tapi situasi dimana eksperimen diadakan adalah artifisial karena
peneliti menarik subjek keluar dari lingkungan normalnya dan menempatkannya
dalam keadaan yang benar-benar berbeda.
2.5.Situasi Studi
Penelitian dapat dilakukan dalam
lingkungan yang tidak diatur (alami) dan diatur (artifisial), diamana studi
korelasional selalu dilakukan dalam situasi yg tidak diatur sedangkan studi kausal lebih sering
dilaksanakan dalam situasi yang diatur (Sekaran, 2006).
1. Studi
lapangan (field study), yaitu studi
korelasi yang dilakukan dalam organisasi.
2. Eksperimen
lapangan (field experiment), yaitu
situasi yang dilakukan untuk menentukan hubungan sebab-akibat dengan
menggunakan lingkunga alami yang sama dimana karyawan berfungsi secara normal.
3. Eksperimen
lab (Lab experiment), yaitueksperimen
yang dilakukan untuk menentukan hubungan sebab akibat yang melampaui
kemungkinan.
2.6.Unit Analisis
Unit analisis merujuk pada tingkat
kesatuan data yang dikumpulkan selama tahap analisis data.Pernyataan masalah
dapat berfokus pada individual, pasangan (dyads), kelompok, organisasi, dan
kebudayaan.Unitanalisi Individual adalah data yang dikumpulkan dari setiap
individu unit.Jika peneliti berminat mempelajari interaksi dua orang maka
dikenal sebagai unit analisis pasangan (dyads). Tetapi jika pernyataan masalah
berkaitan dengan efektifitas kelompok, maka unit analisis adalah pada tingkat
kelompok. Dan selanjutnya unit analisis pada tingkat lainnya. Karakteristik
tingkat analisis yaitu bahwa tingkat yang lebih rendah termaksud dalam tingkat
yang lebih tinggi.Sifat informasi yang dikumpulkan serta tingkat dimana data
dijumlahkan untuk analisis, adalah integral dengan keputusan yang dibuat dalam
memilih unit analisis. Peneliti perlu memutuskan unit analisi bahkan saat kita
merumuskan pertanyaan penelitian karena metode pengumpulan data,ukuran sample,
dan bahkan variabel yang termaksud dalam kerangka kadang ditentukan oleh
tingkat dimana data dijumlahkan untuk analisis.
2.7.Horizon Waktu : Studi Cross
Sectional vs Longitudinal
Neuman (dalam Suyanto dan Susila, 2015)
menjelaskan bahwa studi cross – sectional
(one – shot) merupakan penelitian
yang dilakukan dalam satu waktu tertentu dengan satu fokus.Studi cross –
sectional dilakukan dengan data yang hanya sekali dikumpulkan, mungkin selama
periode harian, mingguan, atau bulanan, dalam rangka menjawab pertanyaan
penelitian.
Studi longitudinal menurut Azwar (dalam
Suyanto dan Susila, 2015) adalah penelitian perkembangan yang bertujuan
mempelajari pola dan urutan perkembangan dan/atau perubahan, sejalan dengan
berlangsungnya perubahan waktu. Peneliti mungkin ingin mempelajari fenomena
pada lebih dari satu batas waktu dalam
rangka menjawab pertanyaan penelitian. Data dikumpulkan pada 2 batas waktu yang
berbeda.
2.8. Teknik Pengumpulan Data
Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi
kualitas data hasi penelitian yaitu, kualitas instrument penelitian dan
kualitas pengumpulan data. Kualitas instrument berkenaan dengan validitas dan
reabilitas instrumen, dan kualitas pengumpulan data berkenaan ketepatan
cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data.
2.8.1. Instrumen
penelitian
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan
menggunakan instrument untuk mengumpulkan data,sedangkan dalam penelitian
kualitatif peneliti akan lebih banyak menjadi instrument. Instrument penelitian
digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data
kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen harus mempunyai skala. Skala
pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan
panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur
tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif
(Sugiyono, 2010).
Contoh
:
1.
Meteran sebagai instrument digunakan
untuk mengukur panjang dengan skala mm, dan akan menghasilkan data kuantitatif
panjang dengan satuan mm.
2.
Thermometer sebagai instrument digunakan
untuk mengukur suhu badan dengan skala Celsius.
Skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan , dan social :
1.
Skala Likert
Skala
likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang tentang fenomena sosial.contoh: Sangat setuju, setuju, Ragu- ragu, Tidak setuju, Sangat
tidak setuju.
NO
|
Pertanyaan
|
Jawaban
|
||||
SS
|
ST
|
RG
|
TS
|
STS
|
||
1
|
Prosedur
kerja yang baru itu
Akan
segera diterapkan diperusahaan.
|
√
|
||||
2
|
…………………………………………………
|
|||||
2.
Skala Guttman
Skala
Pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak” ,
“benar – salah”.
Contoh :
Pernakah pimpinan melakukan pemeriksaan di ruang
kerja anda?
a.
Tidak pernah
b.
Pernah
3.
Semantic Defferensial
Skala
ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun
checklist tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban “sangat
positif” terletak disebelah kanan dan jawaban “sangat Negatif” berada dibagian
kiri, atau sebaliknya.
Contoh :
Nilai
gaya kepemimpinan Manajer anda
|
Bersahabat 5 4 3 2 1 TidakBersahabat
Tepat janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji
Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi
Mempercayai
5 4 3 2 1
Mendominasi
4.
Ratting Scale
Ratting
scale merupakan data mentah yang diperoleh beerupa angka kemudian ditafsirkan
dalam pengertian kualitatif. Dalam skala model ratting scale responden tidak
akan menjawab salah satu jawaban dari jawaban kualitatif yang telah disediakan,
tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan.
Contoh :
1 bila sangat tidak baik
2 bila kurang baik
3 bila cukup baik
4 bila sangat baik
NO item
|
Pertanyaan tentang
tata ruang
|
Interval jawaban
|
1
|
Kebersihan lingkungan
|
4 3 2 1
|
2
|
Penempatan lemari
arsip
|
4 3 2 1
|
3
|
Sirkulasi udara
setiap ruang
|
4
3 2 1
|
2.8.2. Metode
pengumpulan data
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai
sumber, yaitu:
1.
Sumber primer, merupakan sumber data
yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.
2.
Sumber skunder, merupakan sumber yang
tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data.
Macam – macam teknik pengumpulan data (Sugiyono,
2010) yaitu:
1.
Interview (wawancara)
Sutrisno hadi (dalam sugiyono, 2010:194)
mengemukakan bahwa anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan
metode interview dan kuesioner (angket) adalah :
a.
Responden adalah orang yang paling tahu
tentang dirinya sendiri
b.
Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek
kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.
c.
Interpretasi subyek tentang
pertanyaan–pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa
yang dimaksudkan oleh peneliti.
Wawancara dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Wawancara
terstruktur, digunakan sebagai teknik pengumpulan data bila peneliti telah
mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang diperoleh.
b. Wawancara
tidak terstruktur, wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan
pendoman wawancara yang telah tersusun secara sistematisdan lengkap untuk
pengumpulan datanya.
2.
Kuesioner (Angket)
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan
data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan
tertulis kepada responden untuk dijawab.
Uma sekaran (dalam Sugiyono, 2010:199)
menyatakan beberapa prinsip dalam penulisan angket, sebagai berikut:
a.
Prinsip penulisan, yaitu
·
Isi dan tujuan pertanyaan, pertanyaan
harus teliti dan harus dalam bentuk skala pengukuran.
·
Bahasa yang digunakan, harus sesuai
dengan kemampuan berbahasa responden.
·
Tipe dan bentuk pertanyaan dapat berupa
pertanyaan terbuka dan tertutup.
·
Pertanyaan tidak mendua, pertanyaan
tidak membuat responden kesulitan dalam memberi jawaban.
·
Tidak menanyakan yang sudah lupa, tidak
memberikan pertanyaan yang responden sudah lupa dan yang memerlukan jawaban
dengan berfikir berat.
·
Pertanyaan tidak mengggiring, angket
tidak menggiring ke jawaban yang baik saja ataupun yang jelek saja.
·
Panjang pertanyaan, pertanyaan dalam
angket tidak terlalu panjang sehingga idak membuat responden merasa jenuh.
·
Urutan pertanyaan, urutan pertanyaan
dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik atau dari yang mudah menuju
ke hal yang sulit.
b.
Prinsip pengukuran
Angket yang diberikan kepada responden
merupakan instrumen penelitian, yang digunakan untuk mengukur variabel yang
akan diteliti. Oleh karena itu, instrument angket harus dapat digunakan untuk
mendapat data yang valid dan reliabel tentang variabel yang diukur. Angket
perlu diuji validitas dan reabilitasnya terlebih dahulu sebelum diberikan
kepada responden agar memperoleh data penelitian yang valid dan reliabel.
c.
Penampilan fisik angket
Penampilan fisik angket akan
mempengaruhi respon atau keseriusan responden dalam mengisi angket.
3.
Observasi
Sutrisno hadi (dalam sugiyono,
2010:203), mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks,
suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua
diantara yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan.
Dari segi proses pelaksanaan dan segi
instrumen yang digunakan dalam
pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi 4, yaitu:
a. Observasi berperan serta (participant observation), yaitu dalam
observasi peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang
diamati atau yang digunakan sebagai sumber data peneliti.
b. Obsrvasi non partisipan, yaitu dalam
melakukan observasi peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat
indepanden.
c. Observasi terstruktur, yaitu observasi
yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, dan diamana tempat yang diamati.
d.
Observasi tidak terstruktur, yaitu
observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan
diobservasi.
BAB
III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dalam bab ini kami menyimpulkan bahwa
tingakat keketatan ilmiah dalam sebuah studi penelitian bergantung pada
bagaimana ketelitian peneliti dalam memilih alternatif desain yang tepat.
Semakin ketat dan canggih desain penelitian, semakin besar waktu, biaya, dan
sumber daya lain yang akan dihabiskan untuknya. Mengenai isu desain dasar yang
terkait dengan tujuan studi, jenis investigasi, tingkat intervensi peneliti,
keadaan studi,unit analisis, dan horizon waktu. Peneliti menentukan keputusan
yang tepat untuk dibuat dalam desain studi berdasarkan definisi masalah, tujuan
penlitian, tingkat keketatan yang diinginkan,dan pertimbangan biaya.
Kadang-kadang, karna waktu dan biaya, seorang peneliti mungkin terbatas untuk
menyelesaikan kurang dari desain penelitian “ ideal “. Misalnya, peneliti
mungkin terpakasa melakukan studi cross-sectional dan bukan longitudinal,
melakukan studi lapangan ali-ali desain eksperimen, memilih ukuran sampel yang
lebih kecil dan bukan lebih besar, dan seterusnya, sehingga menetapkan
suboptimasi dari keputusan desain penelitian dan menentukan tingkat keketatan
ilmiah yang lebih rendah karna keterbatasan sumber daya. Pertukaran (trade-off) antara keketatan dan sumber
daya ini akan menjadi keputusan sadar dan disengaja oleh peneliti berdasarkan
cakupan dan alasan studi, dan akan disebutkan secara spesifik dalam semua
proposal penelitian tertulis. Kompromi tersebut juga menyebabkan mengapa studi
manajemen tidak sepenuhnya ilmiah. Desain penelitian yang tepat mungkin
menuntut biaya yang lebih tinggi adalah perlu jika hasil studi sangat penting
untuk membut keputusan penting yang mempengaruhi kelangsungan organisasi dan /
atau keberadaan sebagain anggota sistem. Baik sekali untuk memikirkan persoalan
keputusan desain penelitian, bahkan saat kerangka teoritis disusun. Peniliti
harus paham mengenai setiap aspek yang dibahas sebelum memulai mengumpulkan
data.
DAFTAR
PUSTAKA
Sekaran, Uma. 2006. Research Methods For Business; (Metode Penelitian Untuk Bisnis), 4thEdition, Jakarta Selatan
: Salemba Empat.
Sugiyono. 2010. Metode
Penelitan Bisnis , 15thEdition,
Bandung : Alfabeta.
Susila dan Suyanto. 2015. Metodologi Penelitian Cross Sectional,
Edisi ke-1, Klaten : Bossscript.
Depdiknas.
2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia , 4thedition, Jakarta :
PT. Gramedia Pustaka Utama.