Sabtu, 16 Januari 2016

UNSUR UNSUR DESAIN PENELITIAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
       Dalam melakukan penelitian salah satu hal yang penting adalah membuat desain penelitian. Desain penelitian meliputi serangkaian pilihan pengambilan keputusan rasional. Keputusan  mengenai tujuan studi, tingkat manipulasi dan kontrol penelitian, konteks studi, jenis investigasi, aspek temporal, dan level analisis data adalah integral pada desain penelitian. Desain penelitian bagaikan sebuah peta jalan bagi peneliti yang menuntun serta menetukan arah berlangsungnya proses penelitian secara benar dan tepatsesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tanpa desain yang benar seorang penelititidak akan dapat melakukan penelitian dengan baik karena peneliti tidak mempunyai pedoman arah yang jelas. Agar mencapai pembuatan desain yang benar maka peneliti perlu menghindari kesalahan potensial dalam proses penelitian secara keseluruhan seperti kesalahan dalam perencanaan, kesalahan dalam pengumpulan data, kesalahan dalam melakukan analisa, serta kesalahan dalam pelaporan.

1.2.Rumusan Masalah

1.      Apakah Desain Penelitian itu ?
2.      Apa saja tujuan dari studi kasus?
3.      Apa saja jenis investigasi dalam proses penelitian?
4.      Bagaimana tingkat intervensi penelitian terhadap studi?
5.      Bagaimana situasi dalam studi penelitian?
6.      Unit analisis apa yang diperlukan oleh peneliti?

1.3. Tujuan Penulisan

1.      Untuk memahami aspek-aspek dalam desain penelitian.
2.      Untuk mengidentifikasi cakupan studi dan penggunaan akhir dari temuan penelitian.
3.      Untuk memutuskan jenis investigasi yang dibutuhkan, konteks studi, tingkat intervansi peneliti,              unit analisis dan horizon waktu studi.
4.      Untuk mengidentifikasi mana dari dua, studi kausal atau korerasional, yang lebih tepat dalam                  situasi tertentu.

                
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Pengertian Desain Penelitian

       Menurut Depdiknas (2008), desain diartikan sebagai kerangka, pola atau rancangan. Sedangkan Penelitian adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum.
       Dari definisi yang dijelaskan di atas, penulis menyimpulkan bahwa desain penelitian adalah pola atau bentuk yang digunakan seorang peneliti dalam menyelidiki kasus untuk  memperoleh jawaban atas suatu permasalahan yang dapat dijadikan perbandingan dalam mengambil suatu keputusan.

2.2.Tujuan Studi Kasus

       Studi kasus merupakan penyelidikan studi yang dilakukan dalam situasi organisasi lain yang mirip, yang juga merupakan metode pemecahan masalah, atau untuk memahami fenomena yang diminati dan menghasilkan pengetahuan lebih lanjut dalam bidang tersebut. Sifat studi bergantung pada tahap peningkatan pengetahuan mengenai topik yang diteliti.

2.2.1.      Studi Eksploratif

Studi Eksploratif dilakukan jika tidak banyak yang diketahui mengenai situasi yang dihadapi, atau tidak ada informasi yang tersedia mengenai bagaimana masalah atau isu penelitian yang mirip diselesaikan di masa lalu.Intinya, studi eksploratif dilakukan untuk memahami dengan lebih baik sifat masalah karena mungkin baru sedikit studi yang telah dilakukan dalam bidang tersebut.Wawancara ektensif dengan banyak orang mungkin harus dilakukan untuk menangani situasi dan memahami fenomena.Studi eksploratif dilakukan ketika sejumlah fakta diketahui, tetapi diperlukan lebih banyak informasi untuk menyusun kerangkat teoretis yang kukuh (Sekaran, 2006).

2.2.2.       Studi Deskriptif
Studi Deskriptif dilakukan untuk mengetahui dan menjadi mampu untuk menjelaskan karakteristif variable yang diteliti dalam suatu situasi .Adapun tujuan  dari Studi deskriptif  adalah memberikan sebuah riwayat kepada peneliti atau untuk menggambarkan aspek-aspek yang relevan dengan fenomena perhatian dari perspektif seseorang, organisasi, orientasi industri, atau lainnya. Studi deskriptif yang menampilkan data dalam bentuk yang bermakna (Sekaran, 2006), dengan demikian membantu untuk :
1.      Memahami karakteristik sebuah kelompok dalam situasi tertentu;
2.      Memikirkan secara sistematis mengenai berbagai aspek dalam situasi tertentu;
3.      Memberikan gagasan untuk penyelidikan dan penelitian lebih lanjut;
4.      Membuat keputusan tertentu yang sederhana

2.2.3.       Pengujian Hipotesis

Pengujian Hipotesis, menjelaskan sifat hubungan tertentu atau menentukan perbedaan antara kelompok atau kebebasan (independensi). Pengujian hipotesis dilakukan untuk menelaah varians dalam variabel terikat untuk memperkirakan keluaran organisasi (Sekaran, 2006).

2.2.4.        Analisi Studi Kasus

Studi kasus meliputi analisis kontekstual dan mendalam terhadap hal yang berkaitan dengan situasi serupa dalam organisasi lain. Studi kasus bersifat kualitatif adalah berguna dalam menerapkan solusi pada masalah terkini berdasarkan pengalaman pemecahan masalah di masa lalu (Sekaran, 2006).

2.3.Jenis Investigasi Kausal vs Korelasional

       Dalam menemukan jawaban atas suatu persoalan, seorang peneliti harus menentukan jenis investigasi yang diperlukan.Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan hubungan sebab akibat atas persoalan yang dihadapi. Studi kausal digunakan untuk menyatakan bahwa variabel X menyebabkan variabel Y. Jadi, jika variabel X dihilangkan atau diubah dalam cara tertentu, masalah Y terpecahkan. Tetapi, cukup sering tidak hanya satu atau lebih variabel yang menyebabkan masalah dalam organisasi. Sedangkan studi korelasional digunakan peneliti untuk menemukan variabel penting yang berkaitan dengan masalah tersebut.

2.4.Tingkat Intervensi Peneliti Terhadap Studi

       Tingkat intervensi penelitian mempunyai keterkaitan langsung dalam studi yang dilakukan, yaitu studi kausal atau studi korelasional.
Macam–macam intervensi peneliti dalam memanipulasi studi penelitian (Sekaran,2006) yaitu:


2.4.1.      Intervensi Minimal
       Intervensi minimal terjadi jika peneliti hanya menyebarkan kuesioner tanpa  mengintervensi aktivitas normal terhadap kasus yang diteliti.

2.4.2.      Intervensi Sedang
Peneliti tidak lagi berurusan dengan temuan korelasi namun ingin menentukan secara kukuh hubungan kausal.Atau memanipulasi peristiwa normal dengan secara sengaja mengubah tingkat dukugan.

2.4.3.      Intervensi Berlebih
Setelah melakukan eksperimen terdahulu seorang peneliti merasa bahwa hasilnya mungkin tidak valid karena adanya faktor eksternal lain dan memastikan bahwa faktor asing tersebut mungkin mempengaruhi hubungan sebab-akibat. Dalam intervensi berlebih tidak hanya dukungan manipulasi tapi situasi dimana eksperimen diadakan adalah artifisial karena peneliti menarik subjek keluar dari lingkungan normalnya dan menempatkannya dalam keadaan yang benar-benar berbeda.

2.5.Situasi Studi

       Penelitian dapat dilakukan dalam lingkungan yang tidak diatur (alami) dan diatur (artifisial), diamana studi korelasional selalu dilakukan dalam situasi yg tidak  diatur sedangkan studi kausal lebih sering dilaksanakan dalam situasi yang diatur (Sekaran, 2006).
1.   Studi lapangan (field study), yaitu studi korelasi yang dilakukan dalam organisasi.
2.   Eksperimen lapangan (field experiment), yaitu situasi yang dilakukan untuk menentukan hubungan        sebab-akibat dengan menggunakan lingkunga alami yang sama dimana karyawan berfungsi secara          normal.
3.  Eksperimen lab (Lab experiment), yaitueksperimen yang dilakukan untuk menentukan hubungan           sebab akibat yang melampaui kemungkinan.

2.6.Unit Analisis

       Unit analisis merujuk pada tingkat kesatuan data yang dikumpulkan selama tahap analisis data.Pernyataan masalah dapat berfokus pada individual, pasangan (dyads), kelompok, organisasi, dan kebudayaan.Unitanalisi Individual adalah data yang dikumpulkan dari setiap individu unit.Jika peneliti berminat mempelajari interaksi dua orang maka dikenal sebagai unit analisis pasangan (dyads). Tetapi jika pernyataan masalah berkaitan dengan efektifitas kelompok, maka unit analisis adalah pada tingkat kelompok. Dan selanjutnya unit analisis pada tingkat lainnya. Karakteristik tingkat analisis yaitu bahwa tingkat yang lebih rendah termaksud dalam tingkat yang lebih tinggi.Sifat informasi yang dikumpulkan serta tingkat dimana data dijumlahkan untuk analisis, adalah integral dengan keputusan yang dibuat dalam memilih unit analisis. Peneliti perlu memutuskan unit analisi bahkan saat kita merumuskan pertanyaan penelitian karena metode pengumpulan data,ukuran sample, dan bahkan variabel yang termaksud dalam kerangka kadang ditentukan oleh tingkat dimana data dijumlahkan untuk analisis.

2.7.Horizon Waktu : Studi Cross Sectional vs Longitudinal

       Neuman (dalam Suyanto dan Susila, 2015) menjelaskan bahwa studi cross – sectional (one – shot) merupakan penelitian yang dilakukan dalam satu waktu tertentu dengan satu fokus.Studi cross – sectional dilakukan dengan data yang hanya sekali dikumpulkan, mungkin selama periode harian, mingguan, atau bulanan, dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian.
       Studi longitudinal menurut Azwar (dalam Suyanto dan Susila, 2015) adalah penelitian perkembangan yang bertujuan mempelajari pola dan urutan perkembangan dan/atau perubahan, sejalan dengan berlangsungnya perubahan waktu. Peneliti mungkin ingin mempelajari fenomena pada lebih  dari satu batas waktu dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian. Data dikumpulkan pada 2 batas waktu yang berbeda.

2.8. Teknik Pengumpulan Data

       Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasi penelitian yaitu, kualitas instrument penelitian dan kualitas pengumpulan data. Kualitas instrument berkenaan dengan validitas dan reabilitas instrumen, dan kualitas pengumpulan data berkenaan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data.

2.8.1.      Instrumen penelitian
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrument untuk mengumpulkan data,sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti akan lebih banyak menjadi instrument. Instrument penelitian digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen harus mempunyai skala. Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif (Sugiyono, 2010).

Contoh :
1.      Meteran sebagai instrument digunakan untuk mengukur panjang dengan skala mm, dan akan              menghasilkan data kuantitatif panjang dengan satuan mm.
2.      Thermometer sebagai instrument digunakan untuk mengukur suhu badan dengan skala Celsius.
       
Skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan , dan social :
1.      Skala Likert
       Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang tentang                    fenomena sosial.contoh: Sangat setuju, setuju, Ragu- ragu, Tidak setuju, Sangat tidak setuju.

NO
Pertanyaan
Jawaban
SS
ST
RG
TS
STS
1
Prosedur kerja yang baru itu
Akan segera diterapkan diperusahaan.




2
…………………………………………………






2.      Skala Guttman
       Skala Pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak” , “benar –        salah”.
Contoh :
Pernakah pimpinan melakukan pemeriksaan di ruang kerja anda?
a.       Tidak pernah
b.      Pernah

3.      Semantic Defferensial
Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban “sangat positif” terletak disebelah kanan dan jawaban “sangat Negatif” berada dibagian kiri, atau sebaliknya.

Contoh :
Nilai gaya kepemimpinan Manajer anda

Bersahabat      5          4          3          2          1       TidakBersahabat
Tepat janji       5          4          3          2          1       Lupa Janji
Bersaudara      5          4          3          2          1       Memusuhi
Mempercayai    5         4          3          2          1       Mendominasi

4.      Ratting Scale
Ratting scale merupakan data mentah yang diperoleh beerupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Dalam skala model ratting scale responden tidak akan menjawab salah satu jawaban dari jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan.
Contoh :
1 bila sangat tidak baik
2 bila kurang baik
3 bila cukup baik
4 bila sangat baik

NO item
Pertanyaan tentang tata ruang
Interval jawaban
1
Kebersihan lingkungan
4          3          2          1
2
Penempatan lemari arsip
4          3          2          1
3
Sirkulasi udara setiap ruang
4          3          2          1

2.8.2.      Metode pengumpulan data
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai sumber, yaitu:
1.      Sumber primer, merupakan sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.
2.      Sumber skunder, merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data.
Macam – macam teknik pengumpulan data (Sugiyono, 2010)  yaitu:
1.      Interview (wawancara)
       Sutrisno hadi (dalam sugiyono, 2010:194) mengemukakan bahwa anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan metode interview dan kuesioner (angket) adalah :
a.       Responden adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
b.      Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.
c.       Interpretasi subyek tentang pertanyaan–pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah     sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.
Wawancara dibagi menjadi dua, yaitu:
a.  Wawancara terstruktur, digunakan sebagai teknik pengumpulan data bila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang diperoleh.
b.  Wawancara tidak terstruktur, wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pendoman wawancara yang telah tersusun secara sistematisdan lengkap untuk pengumpulan datanya.

2.      Kuesioner (Angket)
       Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.
       Uma sekaran (dalam Sugiyono, 2010:199) menyatakan beberapa prinsip dalam penulisan angket, sebagai berikut:
a.       Prinsip penulisan, yaitu
·         Isi dan tujuan pertanyaan, pertanyaan harus teliti dan harus dalam bentuk skala pengukuran.
·         Bahasa yang digunakan, harus sesuai dengan kemampuan berbahasa responden.
·         Tipe dan bentuk pertanyaan dapat berupa pertanyaan terbuka dan tertutup.
·         Pertanyaan tidak mendua, pertanyaan tidak membuat responden kesulitan dalam memberi jawaban.
·         Tidak menanyakan yang sudah lupa, tidak memberikan pertanyaan yang responden sudah lupa dan yang memerlukan jawaban dengan berfikir berat.
·         Pertanyaan tidak mengggiring, angket tidak menggiring ke jawaban yang baik saja ataupun yang jelek saja.
·         Panjang pertanyaan, pertanyaan dalam angket tidak terlalu panjang sehingga idak membuat responden merasa jenuh.
·         Urutan pertanyaan, urutan pertanyaan dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit.

b.      Prinsip pengukuran
       Angket yang diberikan kepada responden merupakan instrumen penelitian, yang digunakan untuk mengukur variabel yang akan diteliti. Oleh karena itu, instrument angket harus dapat digunakan untuk mendapat data yang valid dan reliabel tentang variabel yang diukur. Angket perlu diuji validitas dan reabilitasnya terlebih dahulu sebelum diberikan kepada responden agar memperoleh data penelitian yang valid dan reliabel.

c.       Penampilan fisik angket
       Penampilan fisik angket akan mempengaruhi respon atau keseriusan responden dalam mengisi angket.

3.    Observasi

       Sutrisno hadi (dalam sugiyono, 2010:203), mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan.
       Dari segi proses pelaksanaan dan segi instrumen yang digunakan dalam  pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi 4, yaitu:
a.   Observasi berperan serta (participant observation), yaitu dalam observasi peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data peneliti.
b.  Obsrvasi non partisipan, yaitu dalam melakukan observasi peneliti tidak terlibat dan hanya        sebagai pengamat indepanden.
c.   Observasi terstruktur, yaitu observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang     akan diamati, dan  diamana tempat yang diamati.
d.      Observasi tidak terstruktur, yaitu observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi.   








BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
       Dalam bab ini kami menyimpulkan bahwa tingakat keketatan ilmiah dalam sebuah studi penelitian bergantung pada bagaimana ketelitian peneliti dalam memilih alternatif desain yang tepat. Semakin ketat dan canggih desain penelitian, semakin besar waktu, biaya, dan sumber daya lain yang akan dihabiskan untuknya. Mengenai isu desain dasar yang terkait dengan tujuan studi, jenis investigasi, tingkat intervensi peneliti, keadaan studi,unit analisis, dan horizon waktu. Peneliti menentukan keputusan yang tepat untuk dibuat dalam desain studi berdasarkan definisi masalah, tujuan penlitian, tingkat keketatan yang diinginkan,dan pertimbangan biaya. Kadang-kadang, karna waktu dan biaya, seorang peneliti mungkin terbatas untuk menyelesaikan kurang dari desain penelitian “ ideal “. Misalnya, peneliti mungkin terpakasa melakukan studi cross-sectional dan bukan longitudinal, melakukan studi lapangan ali-ali desain eksperimen, memilih ukuran sampel yang lebih kecil dan bukan lebih besar, dan seterusnya, sehingga menetapkan suboptimasi dari keputusan desain penelitian dan menentukan tingkat keketatan ilmiah yang lebih rendah karna keterbatasan sumber daya. Pertukaran (trade-off) antara keketatan dan sumber daya ini akan menjadi keputusan sadar dan disengaja oleh peneliti berdasarkan cakupan dan alasan studi, dan akan disebutkan secara spesifik dalam semua proposal penelitian tertulis. Kompromi tersebut juga menyebabkan mengapa studi manajemen tidak sepenuhnya ilmiah. Desain penelitian yang tepat mungkin menuntut biaya yang lebih tinggi adalah perlu jika hasil studi sangat penting untuk membut keputusan penting yang mempengaruhi kelangsungan organisasi dan / atau keberadaan sebagain anggota sistem. Baik sekali untuk memikirkan persoalan keputusan desain penelitian, bahkan saat kerangka teoritis disusun. Peniliti harus paham mengenai setiap aspek yang dibahas sebelum memulai mengumpulkan data.






DAFTAR PUSTAKA

Sekaran, Uma. 2006. Research Methods For Business; (Metode Penelitian Untuk Bisnis), 4thEdition, Jakarta Selatan : Salemba Empat.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitan Bisnis , 15thEdition, Bandung : Alfabeta.
Susila dan Suyanto. 2015. Metodologi Penelitian Cross Sectional, Edisi ke-1, Klaten : Bossscript.
Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia , 4thedition, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

1 komentar: